Analisa Jitu Forex & Gold – 26 Februari 2018

Pada perdagangan awal pekan ini sepertinya dolar AS atau greenback kemungkinan besar ingin mempertahankan penguatannya dengan berharap pula dorongan terhadap kinerja ekonomi AS yang lebih baik dapat menekan The Fed untuk agresif dalam menaikkan suku bunganya

Seperti kita ketahui bahwa di perdagangan akhir pekan kemarin, kondisi greenback sedikit memberikan tekanan kepada mata uang utama dunia lainnya dan emas, sehingga hal ini mengakibatkan EUR/USD ditutup melemah di level 1,2293, GBP/USD ditutup menguat di level 1,3961, AUD/USD ditutup menguat di level 0,7840 dan USD/JPY ditutup menguat di level 106,88. Sekaligus membuat harga emas kontrak April di bursa berjangka New York Mercantile Exchange divisi Comex ditutup melemah $2,40 atau 0,18% di level $1330,30 per troy ounce. Untuk perdagangan mingguan, harga emas turun 0,8%.

Mulai aktifnya pasar keuangan China di Kamis kemarin membawa efek yang kurang bagus bagi kondisi pergerakan imbal hasil obligasi AS yang sudah mulai bergerak normal sehingga pasar saham Wall Street sudah bisa membaik dan pasar emas juga sedikit mengalami tekanannya.

Pernyataan The Fed dalam laporan tengah tahun ke Kongres AS seakan mengulangi pernyataan paparan dari hasil notulen rapat suku bunga The Fed di pekan lalu, di mana The Fed sendiri masih sangat yakin bahwa pasar tenaga kerja AS masih ketat dan bisa menggiring tingkat inflasi yang lebih tinggi sehingga bank sentral AS masih membutuhkan pengetatan kebijakan moneternya dengan cara bertahap.

Situasi seperti ini tentu ditanggapi pasar di akhir pekan dengan berhati-hati, sehingga greenback sendiri tidak terlalu menekan mata uang utama dunia lainnya dan emas. Sepertinya investor nyatanya sedang waspada dengan kebijakan kerja The Fed di bawah kendali Jerome Powell tersebut, karena Powell sendiri terkenal dengan sosok yang hawkish terhadap kenaikan suku bunga.

Ini terbukti di tahun 2015 lalu, Jay Powell sangat berkehendak untuk menaikkan suku bunga 2 kali. Namun saat itu Yellen hanya menghendaki sekali saja, sehingga memang yang terjadi hanya sekali saja dan membuat pasar tenaga kerja makin ketat dan tingkat inflasi pun naiknya secara perlahan-lahan.

Pasar di awal pekan ini sepertinya masih cemas menantikan dengar pendapat antara Jay Powell dengan Kongres dan Senat AS, yang merupakan rangkaian kerja tahunan dari The Fed dengan komando barunya.

Banyak pihak memberikan arah kebijakan kepada The Fed untuk tidak terlaku tergesa-gesa untuk menaikkan suku bunganya karena kondisi keuangan bank sentral sendiri masih di dera defisit neraca yang cukup besar. Namun rupanya sebagian besar anggota The Fed masih menginginkan untuk lebih berfokus kepada mendinginkan ekonomi AS, di mana selama ini, kerja The Fed untuk perbaikan defisit neraca bank sentral berjalan dengan aman dan tidak menimbulkan gejolak meskipun kondisi suku bunga yang naik.

Situasi tarik ulur tersebut membuat dolar AS tidak bergerak terlalu menekan kata uang utama dunia lainnya dan emas, namun kita akan melihat sektor perumahan AS nanti malam apakah masih bisa membantu kinerja ekonomi AS kembali atau tidak. Data penjualan rumah baru AS akan rilis, bila membaik maka sudah barang tentu emas akan terkoreksi.

Namun fokus awal pekan ini pasar akan melihat pernyataan Presiden bank sentral Uni Eropa, Mario Draghi yang akan memberikan gambaran kebijakan moneternya di hadapan parlemen Uni Eropa di Brussel Belgia. Bila menyinggung percepatan normalisasi moneternya, maka greenback bisa terkulai.

Sumber analisa: ForexSignal88, CNBC, Forex Factory, Investing, MetaTrader4, Reuters

Share this post